Jika kita berbicara mengenai managemen information system atau biasa disebut system informasi manajemen, maka pastilah sudah banyak sekali wacana yang menjelaskan secara rinci mengenai pengertian M.I.S tersebut, nah untuk kali ini saya pun akan berbicara mengenai M.I.S tersebut namun dari perspektif yang berbeda, mari kita mulai. Melihat fungsi dari M.I.S tentu secara umum digunakan untuk mendukung dan membuat suatu pengambilan keputusan managemen berdasarkan suatu informasi yang disajikan kepada manajemen tersebut, dengan kata lain dengan adanya M.I.S ini memudahkan manajemen dalam melakukan tugas-tugasnya, kalau melihat bagaimana suatu informasi akhirnya disajikan kepada manajemen tentunya sangat bermacam-macam caranya, begitu juga ketika managemen mengambil tindakan berdasarkan informasi yang ada, terdapat berbagai macam langkah, namun disini saya tidak akan panjang lebar menjelaskan langkah-langkah atau cara-cara tersebut, bahkan tidak akan saya sebutkan saman sekali, lho kalau begitu apa donk yang akan saya ceritakan disini, simple saja, namun juga menjadi catatan penting bagi semua orang yang mendalami M.I.S tersebut, sekali lagi saya tidak bermaksud menjudge atau menilai bahwa apa yang saya bahasa adalah benar, tapi cobalah melihat header halaman ini, disana dikatakan My opinion, so bahasan ini hanyalah pendapat pribadi saya tanpa membenarkan atau menyalahkan pihak manapun.
Di dunia ini M.I.S menjadi salah satu hal penting yang digunakan oleh banyak perusahaan untuk menciptakan keunggulan bersaing, namun sadarkah anda akan dampak lain diluar kegunaan M.I.S tersebut, karena perkembangan teknologi dan strategi dalam berbisnis yang semakin cepat, maka tuntutan akan “asisten pribadi ini” menjadi suatu hal yang penting, maksudnya adalah dengan adanya asisten pribadi tersebut, dalam hal ini diwakilkan oleh M.I.S maka pekerjaan seseorang akan dibantu agar lebih tepat dan menghemat waktu, benarkah demikian? Ya jika dilihat dari fungsi-fungsi M.I.S itu sendiri, namun coba bayangkan hal sederhana seperti berikut ini, coba kita test dalam seminggu anda menghitung tidak menggunakan alat bantu sama sekali, awalnya susah bukan, namun lama kelamaan kita akan terbiasa dan secara tidak langsung menjadi hafal, kemudian setelah anda hafal cobalah menghitung lagi memakai alat bantu seperti kalkulator, tentu akan memudahkan dan tidak mungkin salah bukan (kecuali anda tidak teliti), namun setelah beberapa bulan lamanya memakai alat hitung tersebut, dan anda disuruh menghitung lagi dengan tidak memakai alat bantu lagi, apa yang terjadi, karena anda sudah terbiasa dan nyaman dalam menggunakan kalkulator maka begitu anda menghitung lagi secara manual , anda akan kesusahan dalam menghitung lagi(beberapa orang tidak begitu, namun secara umum banyak orang yang mengalami hal tersebut) dan otak anda telah dikalahkan kalkulator, sama dengan M.I.S, jika manager menggunakan computer terus-menerus dalam pengambilan keputusan dan jika dihadapkan dengan kondisi yang mengharuskan pengambilan keputusan guna mecahan masalah tanpa boleh memakai teknologi informasi dan komputer, manager tersebut tidak dapat memutuskan secara tepat.
Pada zaman dulu, manusia memutuskan suatu hal berdasarkan intuisi dan nalar piker, sehingga nilai-nilai kemanusiaan masih menjadi salah satu hal yang menjadi pertimbangan dalam memutuskan suatu hal tersebut, namun dengan tuntuntan bisnis yang ada para manager dibantu dengan apa yang dinamakan M.I.S, apakah M.I.S tersebut juga mempertimbangkan factor-faktor sperti etika, dampak yang dihasilkan bagi pengambil keputusan, dll? Rasanya tidak, seorang manager yang terus-menerus tergantung pada M.I.S dan tidak pernah memutuskan berdasarkan hal-hal rasional, maka akan menjadi orang yang sama dengan orang-orang yang terbiasa menggunakan kaklkulator tadi, karena dibimbing oleh input-input dari M.I.S maka dia akan percaya sepenuhnya dan jika ada pihak lain yang berpengalaman dan mengatakan bahwa keputusannya salah, apakah manager tersebut mau percaya? Karena M.I.S dianggap telah mewakili apa yang dia putuskan dalam pengambilan keputusan, dengan kata lain, seorang manager lama-kelamaan akan menjadi robot, bukan seorang manusia lagi, apalagi tuntutan hidup zaman sekarang yang membuat uang sudah seperti Tuhan bagi semua orang, bukan tidak mungkin M.I.S yang dibuat pada akhirnya hanya untuk menambah pundi-pundi perusahaan, malah akan menjadi sesuatu hal yang kita anggap benar walau bertentangan dengan etika,.norma atau bahkan hukum sekalipun.
Perkembangan computer yang sangat cepat, daya saing yang tidak sehat, ditambah system pengambilan keputusan yang juga tidak rasional = dunia akan menjadi dunia robot, karena sudah tidak ada yang mempunyai perasaan seperti manusia, semua dapat diwakilkan oleh data-data yang manusia buat sendiri dan pengambilan keputusan juga berdasarkan hal tersebut. Coba anda pikirkan dunia yang hanya mengutamakan kesejahteraan manusia tanpa memperdulikan cara-cara atau dampak yang dihasilkan dan pada akhirnya semua dapat diwakili oleh mesin, sungguh menyeramkan bukan, baru-baru ini ada isu umum dimana banyak sekali perusahaan yang melakukan efisiensi sumber daya manusianya, artinya banyak yang pensiun muda, kenapa? Karena tugas-tugas manusia tersebut dapat digantikan oleh apa yang dinamakan computer, pengambilan keputusan telah dipercayai kepada suatu computer yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat, selalu menurut kemauan perusahaan, tidak rewel tentang gaji, dan dapat bekerja secara maksimal, contoh baru-baru ini City bank telah melakukan pemecatan atau pensiun dini bagi karyawannya yang bergerak di Back office, walau di Indonesia tidak terlalu terkena dampak tersebut namun hal ini menunjukkan bahwa orang-orang tersebut telah digantikan oleh mesin dan computer dengan dalih demi efisiensi perusahaan karena tingkat persaingan yang sedemikian tinggi, menurut saya hal tersebut tidak manusiawi, jika semua perusahaan memakai robot, maka kita-kita ini mau bekerja dimana? Contoh lain, Telkomsel pun juga melakukan hal demikian, banyak karyawan didivisi tertentu dipensiunkan dini, demi alasan yang serupa, kenapa hal ini dibenarkan? Karena dibalik semua itu juga terdapat M.I.S yang menyatakan bahwa demi perkembangan perusahaan maka hal itu harus dilakukan, lantas dimanakah rasa belas kasihan orang-orang yang tidak mendapat pekerjaan tersebut? Jangan dipikir dengan kompensasi yang dibayar cukup untuk seumur hidup, apakah M.I.S mempertimbangkan unsur-unsur kemanusiaan tersebut? Apakah cukup bijak kita memakai teknologi atau computer untuk menggantikan manusia? Saya teringat pada suatu cerita dibuku, ada seorang pengusaha yang sangat pelit, dia sangat kaya, namun saking tamaknya, dalam setiap membuat proyek dia menghemat tenaga kerja, demi apa yang dipercayainya yaitu semakin banyak manusia, semakin tidak bisa dikendalikan seperti, mogok kerja, demontrasi, menuntut upah yang lebih tinggi, dll, kemudian dia meminta managernya untuk memutuskan suatu cara guna mewujudkan ambisinya tersebut, maka dipakailah robot-robot dalam semua sector pekerjaan, suatu ketika robot-robot tersebut bermasalah, apa yang terjadi, tidak ada pekerja yang mau dipakai kemudian perusahaan tersebut hancur selamanya, ringkasan cerita tersebut menunjukkan bahwa tergantung pada yang dinamakan teknologi dan computer saja dalam pengambilan keputusan atau mengantikan suatu pekerjaan manusia tidak selamanya efektif, sama dengan M.I.S, jika suatu perusahaan tergantung pada M.I.S nya, perusahaan tersebut akan kehilangan jati dirinya secara perlahan-lahan, belum lagi jika informasi yang disajikan kacau atau tidak benar semua, oleh karena itu penggunaan M.I.S juga harus diimbangi dengan kesadaran pengambilan keputusan sebagai seorang manusia, jangan karena uang atau apa yang dinamakan nilai bagi perusahaan saja lantas hal lain dilupakan, bukan tidak mungkin dunia pada akhirnya menyembah uang dan M.I.S sebagai sarana untuk membuat dunia seperti demikian, sekarang saja banyak sekali perusahaan yang menggunakan M.I.S demi kepentingan perusahaan tidak bagi kepentingan luas, seperti nasib karyawan, linkungan, dll, contoh terakir seperti lapindo, tentunya pihak lapindo juga memakai M.I.S guna menyelesaikan masalah yang ditimbulkannya, namun lihat saja faktanya, rasa kemanusiaan kalah dengan apa yang namanya kerugian perusahaan, tanggung jawab perusahaan dll. M.I.S pastilah dirancang guna menyelamatkan perusahaan terlebih dahulu, bukan keselamatan manusia, M.I.S pastilah sudah menghitung dampak kerugian dan lain sebagainya, namun apakah M.I.S juga mempertimbangkan perasaan korban, dampak lingkungan, dll. Kesimpulannya, jika tergantung dengan M.I.S apalagi mengandung unsur kepentingan perusahaan diatas segala-galanya, perlahan namun pasti pihak-pihak yang seperti demikian akan menciptakan neraka di atas bumi ini, lantas apakah tidak boleh memakai M.I.S? tentu tidak, M.I.S telah menjadi salah satu bagian penting di dunia kita sekarang, namun hendaknya juga dibarengi dengan hal-hal lain, agar kepentingan semua pihak juga dipertimbangkan, selain factor manusianya yang penting seperti managernya, lebih jauh lagi, fungsi utama M.I.S yang kasat mata apakah untuk membantu peningkatan kesejahteraan perusahaan atau pihak-pihak tertentu, apakah untuk membuat dunia ini seperti dunia robot, atau befungsi sebagai suatu ciptaan manusia yang memberikan kontribusi bagi banyak pihak dan membuat dunia semakin baik….?
Sekali lagi sesuatu yang baik dimata seseorang belum tentu baik dimata orang lain, begitu juga dengan opini saya ini, berdasarkan apa yang saya rasakan dan keterbatasan pengetahuan saya, beginilah yang dapat saya bagikan kepada anda sekalian, terima kasih \(^0^)/.

Salah satu manfaat blog adalah kita dapat menyampaikan opini/pemikiran/unek-unek kita ke publik. So, karena ini blog Tom, silahkan memberi opini/pemikiran/unek-unek sebanyak-banyaknya. Apakah opini tersebut salah atau benar tidak jadi masalah. Malah hal ini merupakan proses pembelajaran kita bersama karena akan mendapat comment dan dari comment tersebut kita bisa saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.
Saya pikir semua hal pasti ada dampak positif maupun dampak negatifnya. Kalau dikatakan bahwa dengan MIS para manajer akan menjadi robot, saya pikir hal tersebut tidak benar. KOMPUTER HANYA MERUPAKAN ALAT BANTU DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN BAGI MANAJER. Berdasarkan buku McLeod MIS Ch 11, masalah2 yang dihadapi oleh para manajer ada yang terstruktur, semi terstruktur, dan tidak terstruktur. Pada masalah yang tidak terstruktur komputer tidak dapat membantu. Jadi, dalam hal ini pengetahuan dan pengalaman para manajerlah yang banyak berperan serta etika. Pendidikan etika dan iman kitalah yang harus lebih banyak diasah. MIS bukan satu-satunya faktor kegagalan dalam pengambilan keputusan.
Karena manusialah yang menjadi aktor utama dalam melakukan semua kegiatan, sama halnya dalam penggunaan komputer maka pengaruh behavior pada IT menjadi isu topik penelitian IT yang menarik. Disertasi saya juga akan mengambil topik tersebut. Gimana dengan tesismu, rencana mau ambil topik apa Tom?
Pandangan lain tentang TI:
http://anggrianto.blogspot.com/search/label/Management%20Information%20System
Ralat untuk alamat yang tepat mengenai pandangan lain tentang TI:
https://www.blogger.com/comment.g?blogID=4844093428466492108&postID=2125540996271346799